Monthly Archives: February 2018

28 Feb 2018

Rabu. Yer. 18:18-20; Mat. 20:17-28. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang. Kalau kita boleh pilih menjadi boss atau pelayan, tentu kita pilih menjadi boss. Tempatnya di atas. Boss punya kuasa dan tinggal memberi perintah untuk dilayani. Pelayan tempatnya di bawah. Ia harus siap sedia ikut perintah boss dan melayani. Yesus membalikkan apa yang kita anggap wajar. Mau menjadi orang terkemuka? Jadilah hamba. Mau menjadi besar? Jadilah pelayan. Sebab orang yang merendahkan diri akan ditinggikan, sedangkan yang meninggikan diri direndahkan. Yesus sendiri memberi teladan. Ia, anak Allah yang Mahatinggi, merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan memberi-Nya nama di atas segala nama. Melayani seperti Yesus dan bersama Yesus memberi kita sukacita yang tak terkatakan.

Advertisements

27 Feb 2018

Yes.1:10,16-20; Mat. 23:1-12. Kamu semua adalah saudara. Kalau orang berkata: “Kita sudah seperti saudara,” maksudnya ialah, “hubungan kami dekat, akrab, saling membela, mendukung, terlebih dalam kesulitan, saling mengandalkan.” Dalam keluarga harmonis pun, bisa terjadi cekcok antara saudara karena berbeda pendapat atau berbeda kepentingan. Tapi itu cepat dibereskan dan tidak berlarut-larut. Alangkah indahnya bila “kita bersaudara” itu berlaku dalam lingkungan, wilayah, paroki, kota, tanah air. Presiden kita, Joko Widodo, dalam pidato 16 Mei 2017 menekankan bahwa kita adalah saudara sebangsa dan setanah air. Tahun 2018 ini Gereja Indonesia memanggil kita bergerak bersama merajut persatuan bangsa.